Imam ghazaly
بسم الله الرحمن الرحيم
...السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Dengan nama الله yang maha pengasih lagi maha penyayang,atas qudrah dan iradahnya telah menjadikan kita sebagai makhluk yg berbeda dari para makhluk lainnya,
Shalat beserta salam kita kirimkan kepada nabi besar " محمد صلى الله عليه وسلم" dan kepada keluarga beserta seluruh sahabat beliau..
Pada kesempatan kali ini kami santri Budi Lamno. akan membahas biografi imam Al Ghazaly setau kami,jika nanti ada kesalahan dalam membahas biografi imam Al Ghazaly, kami mohon maaf, dan kami harapkan pemberitauan dari saudara/ri sekalian yg baik hati jika ada biografinya simpang siur..
![]() |
| اللهم اغفر له |
*BIOGRAFI IMAM GHAZALY*
![]() |
| Lukisan imam Al Ghazaly |
Imam Al Ghazaly ber -nama Muhammad-bin Muhammad- bin Muhammad abu Hamid Al-Ghazaly Al Mujtahid Al Faqih Al Ushuli Al Mutakal-lim At-thusy Asyafi'i محمد ابن محمد ابن محمد ابو حامد الغزالي المجتهد الفقيه الأصل المتكلم الطوسي الشافعى
Beliau dilahirkan pada tahun 450 H / 1058 M di Khurasan Persia sekarang Iran namanya,desa Ghazalah, distrik Thus, bertepatan dengan wafatnya Al Mawardy seorang pengacara di Ostawa, dikenal dengan abu Hamid Muhammad Al Ghazaly, sebab salah satu anaknya bernama Hamid حامد ,dan gelarnya Al Ghazaly At-thusy telah banyak berselisih pendapat ulama,ada yg menyatakan karna ayah beliau Bekerja sebagai pemintal bulu kambing,yaitu membuat pakaian dari wol yang menjualnya dipasar Thus, sebagaimana dihikayahkan bahwa ayah imam ghazaly yang tidak mau makan kecuali dari hasil tangannya sendiri,dan ada juga ulama berpendapat Al Ghazali diambil dari kampung asal beliau Gazlah,adapun nama Asyafi'i menunjuk -kan bahwa beliau bermazdhab Syafi'i. Adapun gelar/laqab terkenal yg sudah tersemat pada beliau yaitu :
Hujjatul Islam حجة الإسلام , karena jasa nya yang besar di dalam menjaga Islam daripada pengaruh bid'ah dan aliran rasionalisme Yahudi , dan beliau berasal dari keluarga sederhana yg religi, lagi mempunyai semangat agama yang tinggi, dan sangat gemar mendalami ilmu agama serta mendampingi para sufi , hingga meluangkan diri untuk melayani mereka, dan beliau menemukan kebaikan dalam diri mereka dan membelanjakan apa yang mungkin baginya untuk mereka. Jika dia mendengar ucapan mereka dia menangis dan tertunduk.dan seperti terlihat pada simpatik nya kepada ulama ,Dia berharap Agar dia diberi rizki berupa anak yg menjadi orang shalih lagi 'alim yang selalu memberi nasehat kepada umat. Maka الله mengabulkan do’anya. dan ayahnya sebelum wafat menitipkan anaknya (Imam al-Ghazali) dan saudaranya (Ahmad) kepada sahabatnya seorang ahli tasawuf yaitu Ahmad bin Muhammad ar-Razikani, sebagaimana kata ayah imam Ghazali kpd sahabat nya "Sesungguhya aku sangatlah kesulitan tentang pelajaran menulis dan aku akan sangat senang untuk menemukan apa yang terlewat dariku di dalam kedua anakku ini. Dan tidak mengapa bagimu menghabiskan semua yang aku tinggalkan untuk mereka berdua dalam hal ini.”
Ketika ayah imam Ghazali meninggal, syeh ar-razikani menjalani wasiatnya,dan syeh ar ar-razikani dengan ikhlasnya mendidik dan menyekolahkan imam Ghazali dan saudaranya antara tahun (465-470 H) ,dan beliaupun mengajarinya ilmu fiqh, riwayat para aulia, dan kesufian mereka.Selain itu ia belajar tentang tasawuf khususnya cara mahabah kepada Tuhan, syair-syair yang menunjukan bahwa Tuhan sebagai tujuan akhir manusia, dan mengikuti sunah-sunah rasul dari hal yang terkecil sampai hal-hal yang implementatif,Setelah harta pusaka peninggalan ayah mereka habis,syeh menasehati imam Ghazali dan saudaranya agar mendalami ilmu sedalam dalamnya, sebagaimana kata sang syeh "Ketahuilah oleh kalian berdua bahwa sesungguhnya aku telah benar-benar membelanjakan apa yang menjadi hak kalian berdua untuk kalian berdua. Aku hanya lelaki miskin. Tidak ada hartaku yang dapat membantu kalian berdua. Hendaklah kalian berlindung kepada sebuah madrasah. Karena sesungguhnya kalian berdua ialah penuntut ilmu. Sehingga kalian akan mendapatkan kekuatan yang akan membantu kalian di atas waktu kalian.” Kemudian mereka berdua melakukan hal itu, dan itulah yang menjadi sebab kebahagiaan dan tingginya tingkatan mereka. Al-Imam Al-Ghazali menceritakan hal itu dngan mengatakan: ”Kami menuntut ilmu karena selain الله ، lalu aku menolak. Agar hal itu hanya karena الله ”
Imam Ghazali menemui ketua perompak itu dan meminta agar catatannya dipulangkan kerena beliau sangat menyayangi dan menghargainya. Mendengar permintaan Imam Ghazali, ketua perompak itu bertanya secara menyindir "Untuk apa catatan ini wahai anak muda? Bukankah engkau telah menghafal dan memahami seluruh isi kandungannya?"
Namun begitu, ketua perompak akhirnya memulangkan kembali catatan tersebut kepada Imam Ghazali. Selepas peristiwa itu, Imam Ghazali menghafal seluruh isi catatannya itu dan apabila menghadiri majlis-majlis ilmu, beliau lebih mengutamakan pemahaman yang sungguh-sungguh dari sekadar mencatat. Beliau benar-benar terkesan dengan sindiran ketua perompak itu. Benarlah kata hukama " Jangan engkau melihat kepada sesiapa yang berkata tetapi lihatlah apa yang dikata".
Sesampai beliau kekampung halamannya, beliau menetap beberapa waktu, dan belajar tasawwuf pada Yusuf Annasaj (w. 487 H) seorang sufi terkenal selama 3 tahun-473 H. Dan pada satu riwayat Pada tahun ini Imam Al-Ghazali berkenalan dengan al-Juwaini dan memperoleh ilmu kalam dan mantiq
Setelah Imam al-Juwayni wafat, Imam Ghazali meninggalkan Naishabur menuju ke Al-Askar di Baghdad.tujuanya untuk bertemu dengan Nizam al-Mulk, wazir istana dinasti Saljuk yaitu sultan Jalal al-din Malikshah. Ia diminta untuk mengajarkan hukum agama di Madrasah Nizamiyah di Baghdad. Al-Ghazali mengajar disana selama empat tahun. Ratusan ulama pejabat pemerintahan , dan yang berkuasa untuk menghadiri pengajian Imam Ghazali. Kebanyakan bahan pengajaran Imam Ghazali dicatat oleh Sayyid bin Faris dan Ibnu Lubban. Keduanya mencatat kira-kira 183 bahan pelajaran yang diberi nama Majalisul Ghazaliyyah.Karena kehebatan ilmunya itulah, akhirnya pada Tahun 484 atau 1091 M Nidzam al-Mulk mengangkat Imam al-Ghazali sebagai guru besar di Universitas yang didirikannya di Baghdad. Hadirlah Imam al-Ghazali dengan membawa perbaikan yang sangat besar. Ia pun memiliki kharisma yang sangat Besar. Bahkan mengalahkan kharisma Para Pejabat dan Menteri. Manusiapun kagum akan bagusnya perkataannya, sempurnanya keutamaannya, fasihnya lisan, kajiannya yang mendalam, isyarahnya yang lembut, dan merekapun menyukainya. Dia pun menunaikan tugas mengajarkan ilmu dan menyebarkannya dengan berbagai pengajian, fatwa dalam bentuk kedudukan yang luhur, tingkatan yang tinggi, kata-kata yang enak di dengar, nama yang terkenal membuat berbagai contoh dengan semua itu, dan keaktifan sehingga menjadikan dia lebih utama ketimbang semua kedudukan yang ada.Di tengah-tengah kesibukannya mengajar di Baghdad, beliau masih sempat mengarang sejumlah Kitab seperti Al-Basith, Al-Wasith, Al-Wajiz, Khulashah Ilmu Fiqh, Al-Munqil fi Ilm al-Jadal (Ilmu Berdebat), Ma'khadz al-Khalaf, Lubab al-Nadzar, Tashin al-Ma'akhidz, dan Al-Mabadi' wa al-Ghayat fi Fann al-Khalaf.
Suatu hari, Imam al-Ghazali terbangun pada dini hari dan sebagaimana biasanya melakukan shalat dan kemudian beliau bertanya pada adiknya: “Hari apakah sekarang ini?” Adiknya pun menjawab: “Hari Senin”. Beliau kemudian memintanya untuk mengambilkan sajadah putihnya, lalu beliau menciumnya, menggelarnya dan kemudian berbaring diatasnya sambil berkata lirih: “Ya Allah, hamba mematuhi perintah-Mu”, dan beliau pun menghembuskan nafas terakhirnya...
Dia wafat di Thusiy pada Hari Senin 14 Jumadil Akhir Tahun 505 H atau 1111 M. dalam usia 55 tahun. Abu al-Farizi bin al-Jauzi dalam Kitab An-Nabat berkata: ”Berkata Imam Ahmad (Saudara laki-laki Imam al-Ghazali): “Ketika itu Hari Senin, waktu subuh saudara laki-lakiku Abu Hamid melakukan wudhu, lalu shalat, lalu berkata: ”Beri aku kain kafan”. Kemudian dia mengambil dan menciumnya lalu meletakkan pada kedua matanya sambil berkata: ”Dengan mendengar dan patuh untuk menghadap sang raja”. Kemudian dia menjulurkan kedua kakinya, menghadap kiblat dan wafat sebelum terbit terang. Semoga Allah mensucikan ruhnya”.
Abu al-Mudhaffar Muhammad Abyuwardiy (Seorang pujangga bermasyhur) menggambarkan tentang dirinya dalam berbagai syair, diantaranya: “Berlalu dan hilanglah suatu yang paling agung sehingga aku menjadi kelaparan karenanya. Seorang yang tiada bandingannya dalam manusia, untuk menggantikannya.”
Al-Imam al-Ghazali dimakamkan diluar kebun Thabiran, yaitu pohon tebu di daerah Thusiy, berdekatan dengan makam Al-Firdausi, seorang ahli syair yang termasyhur. Sebelum meninggal Imam Al-Ghazali pernah mengucapkan kata-kata yang diucapkan pula kemudian oleh Farancis Bacon seorang filosofi Inggeris iaitu: “Ku letakkan arwahku dihadapan Allah dan tanamkanlah jasadku dilipat bumi yang sunyi sepi. Namaku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir ummat manusia di masa hadapan”. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat kepadanya. Aamiin.....
Sumber:
![]() |
| Lukisan imam Ghazaly |
*Perjalanan setelah ayah beliau wafat*
Ketika ayah imam Ghazali meninggal, syeh ar-razikani menjalani wasiatnya,dan syeh ar ar-razikani dengan ikhlasnya mendidik dan menyekolahkan imam Ghazali dan saudaranya antara tahun (465-470 H) ,dan beliaupun mengajarinya ilmu fiqh, riwayat para aulia, dan kesufian mereka.Selain itu ia belajar tentang tasawuf khususnya cara mahabah kepada Tuhan, syair-syair yang menunjukan bahwa Tuhan sebagai tujuan akhir manusia, dan mengikuti sunah-sunah rasul dari hal yang terkecil sampai hal-hal yang implementatif,Setelah harta pusaka peninggalan ayah mereka habis,syeh menasehati imam Ghazali dan saudaranya agar mendalami ilmu sedalam dalamnya, sebagaimana kata sang syeh "Ketahuilah oleh kalian berdua bahwa sesungguhnya aku telah benar-benar membelanjakan apa yang menjadi hak kalian berdua untuk kalian berdua. Aku hanya lelaki miskin. Tidak ada hartaku yang dapat membantu kalian berdua. Hendaklah kalian berlindung kepada sebuah madrasah. Karena sesungguhnya kalian berdua ialah penuntut ilmu. Sehingga kalian akan mendapatkan kekuatan yang akan membantu kalian di atas waktu kalian.” Kemudian mereka berdua melakukan hal itu, dan itulah yang menjadi sebab kebahagiaan dan tingginya tingkatan mereka. Al-Imam Al-Ghazali menceritakan hal itu dngan mengatakan: ”Kami menuntut ilmu karena selain الله ، lalu aku menolak. Agar hal itu hanya karena الله ”
*Imam Ghazali belajar di Jurjan*
Selang beberapa waktu pada tahun, Muhammad al-Ghazali meninggalkan desa kelahirannya menuju pendidikan tinggi di Jurjan. Ia belajar dengan seorang guru besar, yaitu Imam Abu Nashr Ismail.dalam satu riwayat disinilah beliau menikah, kemudian beliau pulang ke Tusi selama tiga tahun,Sewaktu pulang dari Jarjan menuju kampungnya di Thusia, terjadilah satu peristiwa yang menjadi pelajaran berharga bagi imam Ghazaly yaitu peristiwa perompakan dari segerombolan perompak padang pasir yg menyerang rombongan yang disertai oleh Imam Ghazali. Mereka merampas harta yang ada pada rombongan itu. Antara yang dirampas ialah catatan ilmu yang dipelajari oleh beliau dari gurunya di Jarjan iaitu Imam Abu Nashir Al-Ismaili.
Imam Ghazali menemui ketua perompak itu dan meminta agar catatannya dipulangkan kerena beliau sangat menyayangi dan menghargainya. Mendengar permintaan Imam Ghazali, ketua perompak itu bertanya secara menyindir "Untuk apa catatan ini wahai anak muda? Bukankah engkau telah menghafal dan memahami seluruh isi kandungannya?"
Namun begitu, ketua perompak akhirnya memulangkan kembali catatan tersebut kepada Imam Ghazali. Selepas peristiwa itu, Imam Ghazali menghafal seluruh isi catatannya itu dan apabila menghadiri majlis-majlis ilmu, beliau lebih mengutamakan pemahaman yang sungguh-sungguh dari sekadar mencatat. Beliau benar-benar terkesan dengan sindiran ketua perompak itu. Benarlah kata hukama " Jangan engkau melihat kepada sesiapa yang berkata tetapi lihatlah apa yang dikata".
Sesampai beliau kekampung halamannya, beliau menetap beberapa waktu, dan belajar tasawwuf pada Yusuf Annasaj (w. 487 H) seorang sufi terkenal selama 3 tahun-473 H. Dan pada satu riwayat Pada tahun ini Imam Al-Ghazali berkenalan dengan al-Juwaini dan memperoleh ilmu kalam dan mantiq
*Berangkat ke Naisabur*
Pada tahun 473 H pula imam Ghazali berangkat ke Naisabur untuk masuk madrasah Nizhamiyah, Salah satu ulama yang tersohor di madrasah Nizamiyah yaitu Imam Haramain al-Juwayni (W 478 H), Ia mengajarkan Al-Quran, hadis, mantiq, retorika, ilmu hikmah, dan filsafat.dan belajar pula pada beberapa guru lainnya di sekolah al Nizhamiyah seperti abu Al ma'ali. imam Ghazali juga sempat belajar tasawuf di Naisabur kepada Abu Ali al Fadhl ibn Muhammad ibn Ali al Farmadzi (w. 477) .sehingga beliau mengetahui berbagai mazhab ,perbezaan pendapat masing masing dan beliau dapat menolak tiap tiap aliran yang dianggap salah. Bahkan beliau dapat mengimbangi keilmuan gurunya itu. Hingga pada suatu waktu Al-Imam Haramain berkata: "Al-Ghazali ilmunya seperti lautan".
Menurut Abdul Ghofur Ismail Al-Farisi, Imam al-Ghazali menjadi pembahas paling pintar di zamannya. Imam Haramain merasa bangga dengan prestasi muridnya.
Walaupun kemashuran telah diraih Imam al Ghazali, beliau tetap setia terhadap gurunya sampai dengan wafatnya.
Sebelum al Juwaini wafat, beliau memperkenalkan Imam al Ghazali kepada Nidzham Al Mulk, perdana menteri Sultan Saljuk Malik Syah, Nidzham adalah pendiri madrasah an Nidzhamiyah
*Berangkat ke Baghdad*
*Imam Ghazali dialog lintas agama*
Imam Ghazali tidak membatasi dirinya dari berdialog hingga bertukar nalar dengan kaum Syiah, Sunni, Zindiq, Majusi, teolog, Kristen, Yahudi, Ateis, Zoroaster, dan Animisme sehingga pemikirannya yang fundamentalis berubah menjadi moderat. sebagaimana juga beliau mempelajari berbagai aliran agama yang beraneka ragam yang terkenal di waktu itu.
Beliau mendalami berbagai bidang studi ini dengan harapan agar dapat menolongnya mencapai ilmu pengetahuan sejati yang sangat didambakan.
Setelah empat tahun menjalani mandat, beliau memutuskan untuk berhenti mengajar di Baghdad,beliau pun meninggalkan semua itu di belakang punggungnya, berangkatlah beliau ke Baitullah al-Haram di Makkah al-Mukarramah untuk menunaikan ibadah Haji pada Bulan Dzul Hijjah Tahun 488 H dan dia mengangkat saudaranya Imam Ahmad sebagai penggantinya untuk mengajar di Baghdad.
*Imam Ghazaly ke Damaskus*
Setelah itu, Imam al-Ghazali memasuki kota Damaskus sekembalinya menunaikan ibadah Haji pada Tahun 489 H. dan menetap di sana sebentar, kemudian menuju Baitul Maqdis. Dia pun mengunjunginya beberapa waktu, lalu kembali lagi ke Damaskus dan beri’tikaf di menara sebelah barat Masjid Jami’ Umawiy dan di sanalah dia bermukim. di kota tersebut pada satu sudut yang terkenal sampai sekarang dengan nama “Al Ghazaliyah”, diambil dari nama mulia itu. Pada masa itulah Imam Al-Ghazali mengarang Kitab Ihya’ Ulumuddin. Dengan kehidupan serba penuh ibadah, keadaan dalam kehidupannya pada saat itu amat sederhana, dengan berpakaian kain kasar, menyedikitkan makan dan minum, mengunjungi masjid-masjid dan desa, melatih diri berbanyak ibadah dan menempuh jalan yang membawanya kepada keridhaan Tuhan Yang Maha Esa,Dilanjutkan pengembaraan ke berbagai padang pasir untuk melatih diri menjauhi barang-barang terlarang (Haram), meninggalkan kesejahteraan dan kemewahan hidup, mendalami masalah keruhanian dan penghayatan agama. Secara kebetulan suatu hari dia memasuki Madrasah al-Aminah dan menemukan sang Kepala Madrasah berkata: ”Al-Ghazali berkata…” (Dimana sang kepala madrasah sedang mengupas perkataan al-ghazali), maka Imam al-Ghazali khawatir akan timbulnya kebanggaan dalam dirinya, dan dia pun kemudian meninggalkan kota Damaskus. Lalu berkelana keberbagai negeri sehingga dia memasuki Negeri Mesir dan menuju ke Iskandariah, bermukim disana beberapa waktu. Dikatakan bahwa dia berkeinginan untuk melanjutkan perjalanan menghadap Sultan Yusuf bin Tasyifin (Raja Maroko), ketika dia mendengar berita tentang keadilannya, lalu kemudian sampai pula berita tentang kematiannya. Lalu kemudian Imam al-Ghazali melanjutkan pengembaraannya keberbagai negeri.
*Pulang ke Baghdad*
Setelah itu, al-Imam al-Ghazali pulang ke Baghdad, kembali mengajar di Madrasah Nizhamiyah di Naisabur sebentar. Hanya saja beliau menjadi guru besar dalam bidang studi lain tidak seperti dahulu lagi. Setelah menjadi guru besar dalam berbagai ilmu pengetahuan agama, sekarang tugas beliau menjadi Imam Ahli Agama dan Tashawwuf serta penasehat spesialis dalam bidang agama. Kitab pertama yang beliau karang setelah kembali ke Baghdad ialah Kitab Al-Munqidz min al-Dholal (Penyelamat dari Kesesatan). Kitab ini dianggap sebagai salah satu buku referensi yang paling penting bagi sejarawan yang ingin mendapatkan pengetahuan tentang kehidupan Imam al-Ghazali. Kitab ini mengandung keterangan sejarah hidupnya di waktu transisi yang mengubah pandangannya tentang nilai-nilai kehidupan. Dalam kitab ini juga, beliau menjelaskan bagaimana iman dalam jiwa itu tumbuh dan berkembang, bagaimana hakikat ketuhanan itu dapat tersingkap atau terbuka bagi umat manusia, bagaimana mencapai pengetahuan sejati (Ilmu yaqin) dengan cara tanpa berpikir dan logika, namun dengan cara ilham dan mukasyafah (Terbuka hijab) menurut ajaran Tashawwuf.
*Menjelang wafat*
Menjelang wafat Imam Al-Ghazali terus mempelajari ilmu, mengkaji ilmu dan berdiskusi dengan para ulama, serta mengkaji untuk para penuntut ilmu, melanggengkan shalat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya sampai dia beralih kepada rahmat dan keridhaan Allah,
Dia wafat di Thusiy pada Hari Senin 14 Jumadil Akhir Tahun 505 H atau 1111 M. dalam usia 55 tahun. Abu al-Farizi bin al-Jauzi dalam Kitab An-Nabat berkata: ”Berkata Imam Ahmad (Saudara laki-laki Imam al-Ghazali): “Ketika itu Hari Senin, waktu subuh saudara laki-lakiku Abu Hamid melakukan wudhu, lalu shalat, lalu berkata: ”Beri aku kain kafan”. Kemudian dia mengambil dan menciumnya lalu meletakkan pada kedua matanya sambil berkata: ”Dengan mendengar dan patuh untuk menghadap sang raja”. Kemudian dia menjulurkan kedua kakinya, menghadap kiblat dan wafat sebelum terbit terang. Semoga Allah mensucikan ruhnya”.
Abu al-Mudhaffar Muhammad Abyuwardiy (Seorang pujangga bermasyhur) menggambarkan tentang dirinya dalam berbagai syair, diantaranya: “Berlalu dan hilanglah suatu yang paling agung sehingga aku menjadi kelaparan karenanya. Seorang yang tiada bandingannya dalam manusia, untuk menggantikannya.”
Al-Imam al-Ghazali dimakamkan diluar kebun Thabiran, yaitu pohon tebu di daerah Thusiy, berdekatan dengan makam Al-Firdausi, seorang ahli syair yang termasyhur. Sebelum meninggal Imam Al-Ghazali pernah mengucapkan kata-kata yang diucapkan pula kemudian oleh Farancis Bacon seorang filosofi Inggeris iaitu: “Ku letakkan arwahku dihadapan Allah dan tanamkanlah jasadku dilipat bumi yang sunyi sepi. Namaku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir ummat manusia di masa hadapan”. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat kepadanya. Aamiin.....
Sumber:
- Al-Munqid Min Adh-Dhalal karya Al-Ghazali (Hal. 59-65).
- Muqaddimah ihya Ulumuddin
- Al-Muntadzim Karya Ibnul Jauzi (Juz 9 hal. 168).
- Siyar A'lam An-Nubala' Kayra Imam Adz-Dzahabi (Juz 19 hal. 322).
- Thabaqat Asy-Syafi'iyah Al-Kubra Karya Taqiyuddin As-Subuki (Juz 6 hal. 191)
- Wafiyat Al-A'yan karya As-Shafadi (Juz 4 hal. 416)
- Mir'ah Al-Jinan Karya Al-Yafi'i (Juz 3 hal. 145)
- Thabaqat Ash-Shufiyah Karya Al-Manawi (Juz 2 hal. 291)
- Syadzrat Adz-Dzahab karya Ibnu Al-'Imad Al-Hanbali (Juz 4 hal. 13)
- Al-A'lam karya Az-Zarkali (Juz 7 hal. 22
- Dan dalam kitab2 yg lain yg masih banyak...
...............و الله اعلم
Sekian,,,,jika ada kesalahan dalam penyusunan,dan penyampaian,kami mohon maaf.....



Komentar
Posting Komentar
Terimakasih telah mengunjungi blog kami,berkomentarlah dengan sopan,dan kami menerima kritik sehat,bukan yang merendahkan.السلام عليكم